Beranda Bisnis Alasan Kenapa Penjual Memberitahu Harga via Inbox

Alasan Kenapa Penjual Memberitahu Harga via Inbox

8
0

Tanya harga cek inboxAlasan Kenapa Penjual Memberitahu Harga via Inbox – Jika anda aktif dalam menggunakan platform social media seperti Facebook dan Instagram, saya yakin anda pasti pernah melihat sebuah postingan yang tujuannya adalah untuk mempromosikan sebuah barang dagangan.

Anehnya, dari sekian banyak posting tentang barang dagangan tersebut, selalu ada saja penjual yang tidak mencantumkan harga. Jadi mereka hanya menyertakan keterangan produk saja.

Dan ketika ada yang bertanya soal harga pada kolom komentar, biasanya seller tersebut akan menjawab dengan kata “cek inbox gan”. Sebagai isyarat bahwa ia telah mengirimkan detail harga melalui inbox alias percakapan pribadi yang terpisah.

Kalau anda berada di posisi sebagai pembeli, ada kemungkinan anda akan bertanya-tanya: kenapa tidak langsung dijawab saja di kolom komentar yang sama? Kenapa harus repot-repot pindah lewat inbox (percakapan pribadi) segala? Atau bahkan, kenapa harganya tak sekalian dicantumkan dalam posting promosinya?

Bukankah barang tersebut dijual untuk umum? Kenapa mesti sembunyi-sembunyian soal harga? Bukankah akan lebih mudah jika seller memberitahu harganya secara terbuka, sehingga orang tak lagi bertanya?

Jawabannya adalah, sebenarnya, tak sesimpel itu. Orang awam mungkin akan berpikir demikian karena belum paham. Padahal, ada berbagai alasan yang mendasari perilaku “tanya harga cek inbox” tersebut. Berikut adalah diantaranya:

1. Menghindari Calon Pembeli Usil

Hal pertama yang coba dihindari oleh seller adalah komentar dari orang usil. Jika anda pernah berada di posisi penjual (seller) dan sering melakukan promosi di social media, pasti anda pernah mendapati orang yang demikian.

Contohnya, anggaplah kita sudah mencantumkan harga atau menjawab harga yang ditanyakan langsung pada kolom komentar. Orang yang usil, terkadang akan langsung memvonis bahwa harga yang kita sebutkan itu “mahal”. Terlepas apakah ia memang paham soal harganya, atau tidak.

Kadang pula, akan ada yang langsung melakukan aksi tawar menawar pada kolom komentar. Dan kedua hal ini bukanlah sesuatu yang baik bagi seller.

Kalau sampai ada yang memberi komentar “mahal”, otomatis akan membuat minat calon konsumen lain bakal berkurang. Karena secara tidak sadar, calon konsumen yang membaca komentar usil itu bakal berpikir:

“Kalau yang ini dibilang mahal, berarti ada yang lebih murah dong?” “Berarti harganya nggak wajar dong?” “Kalau begitu, mungkin saya harus coba mencari yang lain.”

Coba perhatikan contoh percakapan dibawah ini. Bayangkan bahwa saat ini diri anda adalah orang (diluar percakapan) yang sedang berminat dengan produk tertentu, lalu membaca komentar seperti ini:

B: Sis, yang ini berapa?
J: 500rb aja sis
B: Kok mahal sis? Di toko sebelah cuma 400rb loh
J: Iya, mungkin bahannya beda sis. Ini bahannya berkualitas.
B: Bukannya sama aja? Motifnya hampir mirip loh sama yang disebelah.

Apa yang anda pikirkan setelah membaca percakapan tersebut? Saya yakin, minat anda untuk membeli produk yang sedang diperdebatkan itu pasti akan turun, walau mungkin hanya sedikit.

Memang, tidak semua konsumen akan terpengaruh hanya karena percakapan yang demikian. Namun tetap saja, akan ada sebagian kecil calon konsumen yang bakal berpikir ulang. Itu artinya, peluang kita untuk mendapatkan banyak konsumen akan sedikit berkurang.

Jika anda cukup cuek dengan keadaan tersebut, mungkin anda bisa membiarkannya saja. Yang jadi masalah adalah ketika ada orang usil lain yang ikut memberi komentar serupa hingga berdampak cukup besar untuk membuat calon konsumen lain berpikir ulang. Seller mana yang mau mengalami skenario seperti itu?

2. Menghindari Komentar Tawar Menawar

Contoh kasus yang paling mudah kita jumpai adalah ketika kita menjual barang bekas seperti misalnya sebuah smartphone. Terkhusus untuk barang bekas seperti ini, sebenarnya tak masalah jika kita mencantumkan harga di awal.

Hanya saja, seller yang pintar akan berusaha untuk menggiring calon konsumen untuk menghubunginya via percakapan pribadi (PM) jika ingin melakukan penawaran. Karena disadari atau tidak, aksi tawar menawar secara terbuka pada kolom komentar, secara tidak langsung akan menurunkan nilai jual barang dagangan kita dimata calon konsumen lain.

Kalau sampai ada yang menawar apalagi dengan harga yang sadis, cepat atau lambat calon konsumen lain pun bakal ikut-ikutan menawar dengan harga yang tak kalah sadis. Hal ini akan membuat barang dagangan kita menjadi sulit laku, kecuali kita menyerah dengan penawaran-penawaran tak manusiawi tersebut.

Maka, demi dapat mempertahankan harga jual agar sesuai dengan keinginan kita, penting kiranya untuk menggiring calon konsumen agar berkomunikasi via percakapan pribadi saja.

3. Menghindari Protes Dari Pembeli Lain

Kasus seperti ini lebih sering dialami oleh kita yang menarget emak-emak sebagai konsumen. Contohnya adalah produk berupa pakaian wanita atau makanan.

Kalau misalnya kita membiarkan aksi tawar-menawar secara terbuka pada kolom komentar, dan kemudian terjadi kesepakatan harga (deal), maka pasti akan ada calon konsumen lain yang merasa cemburu. Sehingga, ia akan meminta harga yang sama dengan harga yang kita berikan kepada orang lain.

  • Menggiring ke Percakapan Pribadi

Emak 1: Kalo ambil banyak bisa dapet harga khusus gak sis?
Penjual: Cek inbox ya sis
* MASALAH SELESAI SAMPAI DISINI *

  • Membiarkan Nego di Komentar

Emak 1: Kalo ambil banyak bisa dapet harga khusus gak sis?
Penjual: Bisa sis, mau ambil berapa?
Emak 1: Rencana mau ambil 2 kodi sis
Penjual: Bisa sis, kalau ambil 2 kodi bisa dapet harga 50rb per pcs
Emak 1: Ok sis
Emak 2: Aku juga mau dong sis, kasih harga 50rb juga ya
Penjual: Memangnya mau ambil berapa kodi sis?
Emak 2: Ambil 3 pcs aja sis
Penjual: Wah mohon maaf, harga khusus hanya untuk pembelian dalam jumlah banyak. Kalau cuma 3 pcs, harganya normal ya sis, 60rb per pcs
Emak 2: Itu kan udah banyak sis?! Masa emak tadi dikasih murah, tapi aku nggak?
Emak 3: Aku juga mau dong sis, kasih harga khusus juga dong. Mau ambil 2 pcs. Hehe
Penjual: *Segera minum oskadon*

Kalau sudah demikian, nilai jual dari barang dagangan kita pasti sudah turun dimata calon konsumen lain. Dan jangan dikira contoh percakapan diatas itu hanya dongeng belaka, karena saya sudah pernah mengalaminya sendiri.

Jika ingin bermain lebih aman lagi, kita bisa memilih untuk tak mencantumkan harga pada keterangan produk. Sehingga, pertanyaan macam “bisa nego nggak sis?” sangat bisa untuk dihindari.

Karena komentar pertama yang pasti mereka tanyakan adalah soal harga. Kalau harganya saja mereka belum tau, bagaimana bisa mereka melakukan penawaran harga? Kalaupun pada akhirnya mereka meminta nego saat dalam percakapan pribadi, calon konsumen lain pasti tidak akan tau bahwa ternyata harga jualnya masih bisa ditawar.

Dengan demikian, kemungkinan konsumen untuk melakukan nego harga pun akan semakin sedikit.

4. Menyaring Calon Pembeli Berkualitas

Kalau calon konsumen benar-benar serius berminat terhadap apa yang kita tawarkan, mereka pasti akan memberanikan diri untuk mengirimkan pesan pribadi terhadap seller untuk menanyakan soal detail harga. Memang sih, tidak 100% dari mereka yang bertanya itu bakal memutuskan untuk membeli setelah tau harganya.

Tapi itu akan lebih baik daripada kita harus meladeni komentar-komentar iseng yang “nanya doang, tapi nggak beli”. Dengan kata lain, mereka yang berani untuk melakukan percakapan pribadi adalah calon konsumen yang lebih berkualitas. Dalam arti, kemungkinan untuk benar-benar membeli akan lebih besar karena memang sudah ada minat yang cukup kuat.

Karena pada umumnya, mereka yang cuma iseng bakal segan untuk bertanya via private message (PM). Sehingga, kita bisa lebih menghemat waktu dan juga tenaga untuk urusan ini saja.

5. Agar Lebih Mudah Closing

Memang, tidak 100% dari mereka yang berani untuk mengirim PM akan langsung memutuskan untuk membeli. Entah karena pertimbangan harga, atau masih ada sedikit keraguan yang berkaitan dengan produk.

Disinilah kita bisa melakukan pendekatan personal terhadap mereka. Ingat, mereka ini adalah adalah calon konsumen yang sudah disaring sehingga peluang untuk bisa closing akan lebih besar. Sekecil apapun minat pada sebuah produk adalah sebuah peluang bagi kita para seller.

Mereka yang masih meragu namun punya minat besar, biasanya akan bertanya soal detail-detail produk yang ingin dia ketahui. Tugas kita adalah menjawab pertanyaan mereka sebaik mungkin untuk dapat meyakinkan mereka.

Disini kita juga bisa memberikan penawaran terbaik secara personal jika ternyata prosesnya berjalan sedikit alot. Dengan catatan, kita mesti yakin bahwa ia adalah calon konsumen yang valuable untuk kedepannya.

Sebaliknya, kalau seandainya kita membiarkan proses tawar-menawar bergerak liar pada kolom komentar, efeknya adalah … Silakan cek kembali alasan nomor 1, 2 dan 3 diatas.

6. Menghindari Kompetitor Nakal

Nah yang satu ini adalah yang paling menyebalkan diantara semuanya. Resiko jika seller mencantumkan harga secara terbuka adalah akan ada kompetitor nakal yang berusaha menyerobot lahan kita. Dengan cara ikut menghasut calon konsumen agar mereka tak jadi membeli.

Bahkan tak jarang mereka juga akan melakukan berbagai cara hina lainnya. Termasuk menawarkan produk serupa dengan harga yang lebih murah dari yang seharusnya.

Hal ini cukup sering saya lihat di forum jual beli hape. Bahkan saya juga pernah beberapa kali mendapati orang-orang tak beretika macam ini mencoba menyerobot konsumen di posting-posting berbayar yang diiklankan oleh seller lain.

Bukan berarti si seller yang menjual terlalu mahal. Karena biasanya memang si penyerobot rela untuk memangkas keuntungan hingga menawarkan harga yang dibawah standar hanya demi mendapatkan penjualan.

Kita yang capek-capek promosi, eh dia yang closing. Menyebalkan, bukan?!

Dengan tulisan ini, saya harap para calon konsumen dapat lebih paham dan tak lagi mempermasalahkan soal “tanya harga cek inbox”. – vionlin.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here